One Day Hands-On Course Bersama drg. Eddy,Ph.D di M3i Dental
Teori di buku mungkin terlihat sederhana.
Pasien datang dengan keluhan, dokter melakukan anamnesis, menegakkan diagnosis, kemudian menentukan perawatan yang sesuai.
Namun, ketika benar-benar duduk berhadapan dengan pasien di klinik, ceritanya bisa berbeda.
Pertanyaan yang harus diajukan saat anamnesis bisa menjadi lebih banyak. Diagnosis yang awalnya terlihat jelas ternyata masih memiliki beberapa kemungkinan. Belum lagi ketika harus menentukan obat, melakukan isolasi area kerja, hingga memilih teknik restorasi yang tepat.
Situasi seperti inilah yang kemudian dibawa ke dalam One Day Hands-On Course: From Theory to Practice bersama drg. Eddy, PhD, yang berlangsung pada Minggu, 16 Agustus 2026 di M3i Dentistry Development Centre.
Sejak pagi, peserta yang terdiri dari mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi muda berkumpul untuk mengikuti rangkaian pembelajaran selama satu hari.
Bukan hanya duduk mendengarkan materi.
Ada kasus yang dibahas, pengalaman klinis yang dibagikan, pertanyaan yang mungkin juga pernah muncul saat praktik, hingga kesempatan mencoba langsung beberapa teknik melalui sesi hands-on.
Semuanya Dimulai dari Cara Berbicara dengan Pasien
Sebelum berbicara mengenai tindakan, sesi dimulai dari hal yang terlihat sederhana tetapi memiliki peran besar dalam menentukan langkah berikutnya: anamnesis.
Bagaimana cara menggali keluhan pasien?
Pertanyaan apa yang sebaiknya diajukan?
Dan bagaimana membuat pasien merasa cukup nyaman untuk menceritakan kondisi yang dialaminya?
Melalui sesi ini, peserta diajak melihat kembali bahwa komunikasi dengan pasien bukan hanya percakapan pembuka sebelum pemeriksaan.
Informasi yang didapatkan dari anamnesis dapat menjadi petunjuk awal sebelum dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan menentukan diagnosis.
Dari sinilah pembahasan kemudian bergerak menuju hal yang lebih klinis.
Ketika Satu Keluhan Bisa Mengarah ke Beberapa Diagnosis
Dalam praktik sehari-hari, keluhan pasien tidak selalu langsung menunjuk pada satu diagnosis.
Keluhan nyeri, misalnya, masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui anamnesis, pemeriksaan klinis hingga pemeriksaan penunjang.
Karena itu, salah satu sesi dalam kegiatan ini membahas cara menegakkan diagnosis pada berbagai kasus yang sering ditemukan di klinik.
Peserta diajak melihat bagaimana informasi yang diperoleh sejak awal dapat dirangkai menjadi dasar dalam menentukan kondisi pasien dan rencana perawatan berikutnya.
Pembahasan seperti ini terasa dekat dengan keseharian praktik.
Bukan kasus yang hanya berhenti sebagai teori, tetapi situasi yang kemungkinan besar akan atau bahkan sudah pernah ditemui peserta ketika menghadapi pasien.
Setelah diagnosis mulai terbentuk, pertanyaan berikutnya terkadang muncul.
Medikamen apa yang dibutuhkan?
Obat apa yang tepat untuk kondisi pasien tersebut?
Dalam sesi berikutnya, peserta mendapatkan rangkuman mengenai berbagai medikamen dan obat yang sering digunakan dalam praktik kedokteran gigi.
Pembahasannya menjadi pengingat bahwa pemilihan obat tidak dapat dilakukan hanya karena suatu produk sering digunakan.
Kondisi pasien, indikasi, riwayat kesehatan, hingga tujuan perawatan tetap perlu menjadi pertimbangan.
Hal yang sama juga berlaku ketika dokter memilih material yang akan digunakan dalam tindakan klinis.
Ketersediaan material dari supplier bahan dental Indonesia menjadi salah satu bagian yang mendukung kebutuhan praktik, tetapi pemilihan produk tetap perlu disesuaikan dengan indikasi dan prosedur yang dilakukan.
Perawatan Endodontik, Haruskah Ditakuti?
Ada satu judul materi yang cukup menarik perhatian dalam kegiatan kali ini:
“Endodontic Treatment – To Be Scared or Not?”
Bagi sebagian dokter muda, perawatan endodontik mungkin menjadi salah satu prosedur yang terasa cukup menantang.
Setiap kasus dapat memiliki kondisi yang berbeda. Tahapannya pun membutuhkan ketelitian sejak diagnosis hingga tindakan dilakukan.
Melalui sesi ini, peserta diajak melihat perawatan endodontik dengan pendekatan yang lebih sistematis.
Alih-alih melihatnya sebagai prosedur yang menakutkan, peserta kembali mengurai apa saja yang perlu diperhatikan ketika menghadapi kasus endodontik di klinik.
Namun, kegiatan hari itu tentu tidak berhenti pada pembahasan teori.
Setelah beberapa sesi materi, waktunya peserta mulai mempraktikkan apa yang dipelajari.
Memasuki sesi hands-on, peserta mulai berhadapan langsung dengan salah satu teknik yang cukup penting dalam berbagai prosedur kedokteran gigi, yaitu rubber dam isolation.
Kali ini, praktik dilakukan pada gigi anterior.
Peserta tidak hanya melihat bagaimana rubber dam dipasang, tetapi juga mencoba langsung tahapan pemasangannya.
Dari memilih area yang akan diisolasi hingga menempatkan rubber dam dengan tepat, hal-hal kecil yang mungkin sulit dipahami hanya melalui gambar atau teori menjadi lebih mudah dimengerti ketika dilakukan sendiri.
Di sinilah konsep From Theory to Practice mulai benar-benar terasa.
Apa yang sebelumnya hanya dibicarakan, sekarang dikerjakan dengan tangan sendiri.
Tantangan Berikutnya: Restorasi Class II
Setelah rubber dam, sesi praktik berlanjut ke teknik penambalan posterior atau restorasi Class II.
Restorasi posterior memang tidak hanya berbicara mengenai menempatkan material pada kavitas.
Dokter juga perlu mempertimbangkan bentuk restorasi, kontak dengan gigi di sebelahnya, hingga bagaimana hasil akhirnya dapat kembali mendukung fungsi gigi.
Peserta pun mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tahapan restorasi tersebut melalui praktik langsung.
Dalam sesi ini, peserta juga mengenal HUGE Trustfil Universal Composite, material restorasi dari HUGE Dental.
Produk HUGE Dental tersedia melalui M3i Dental, yang juga menjadi salah satu supplier HUGE dental Indonesia untuk berbagai kebutuhan material kedokteran gigi.
Mengenal suatu material secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar melihatnya melalui katalog.
Peserta dapat memahami karakter material sekaligus bagaimana penggunaannya dalam prosedur yang sedang dipelajari.
Ketika Pengalaman Klinik Masuk ke Ruang Diskusi
Menjelang akhir kegiatan, suasana pembelajaran beralih menjadi diskusi mengenai kasus-kasus yang sering ditemukan dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari.
Sesi ini menjadi menarik karena dunia klinis memang tidak selalu memiliki satu jawaban yang sama untuk setiap kondisi.
Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum dokter mengambil keputusan.
Kasus yang terlihat sederhana dapat berubah ketika kondisi pasien berbeda. Sebaliknya, kasus yang awalnya terlihat rumit bisa menjadi lebih mudah dipahami ketika seluruh informasi sudah dikumpulkan dengan baik.
Melalui diskusi, peserta dapat melihat bagaimana sebuah kasus dianalisis dari sudut pandang yang lebih luas.
Pertanyaan pun tidak lagi berhenti pada “apa diagnosisnya?”, tetapi berkembang menjadi “mengapa memilih tindakan tersebut?” dan “apa yang perlu diperhatikan sebelum melakukannya?”
Satu Hari yang Membawa Teori Lebih Dekat ke Klinik
Tanpa terasa, rangkaian kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB akhirnya sampai pada penghujung acara.
Dalam satu hari, pembahasannya bergerak cukup jauh.
Dimulai dari bagaimana berbicara dengan pasien, melakukan anamnesis, menegakkan diagnosis, memahami medikamen, membahas perawatan endodontik, memasang rubber dam, melakukan restorasi Class II, hingga berdiskusi mengenai kasus-kasus klinis.
Semuanya kembali pada satu tujuan yang sama: membawa teori lebih dekat dengan kondisi yang benar-benar ditemui di ruang praktik.
Sebagai supplier alat dan bahan dental Indonesia, M3i Dental tidak hanya menghadirkan berbagai produk untuk kebutuhan dokter gigi, tetapi juga menyediakan ruang pembelajaran melalui M3i Dentistry Development Centre.
Kegiatan seperti seminar dan hands-on course menjadi kesempatan bagi mahasiswa kedokteran gigi maupun dokter gigi muda untuk bertemu, bertanya, mencoba, dan kembali memperbarui pengetahuan yang dimiliki.
Karena pada akhirnya, belajar kedokteran gigi tidak selalu selesai ketika teori sudah dipahami.
Terkadang, justru ketika mulai mempraktikkannya, muncul lebih banyak hal baru yang perlu dipelajari.

